Hasil Penjualan Lebihi Target, Capai Rp 31,5 T

SURABAYA – Respon masyarakat ternyata sangat bagus terhadap sukuk negara ritel seri SR-008. Hasil penjualan sukuk negara ritel seri SR-008 mencapai Rp 31,5 triliun. Jumlah tersebut melebihi target indikatif sebesar Rp 30 triliun.


Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Robert Pakpahan mengatakan, target indikatif SR-008 awalnya Rp 30 triliun. Namun karena tingginya minat masyarakat selama masa penawaran 19 Februari-4 Maret 2016, sehingga sekitar 50 persen dari 26 agen penjual mengajukan permohonan upsize kuota penjualan.



“Peningkatan kuota yang kemudian disetujui sebesar Rp 1,5 triliun sehingga totalnya mencapai Rp 31,5 triliun,” jelasnya dalam rilis kemarin.


Menurutnya nilai tersebut merupakan yang terbesar dari delapan seri SR yang pernah diterbitkan. Nilai ini juga lebih besar dari hasil SR-007 yang mencapai Rp 21,975 triliun. Rata-rata capaian total penerbitan SR-001 hingga SR-006 mencapai sekitar Rp 11,5 triliun.


Dari rentang pembelian, volume pembelian pada rentang Rp 600 juta-Rp 2 miliar nilainya mencapai Rp 12,835 triliun. Sementara volume pembelian kurang dari Rp 100 juta mencapai Rp 1,098 triliun. Sehingga penjahan per investor mencapaI Rp 650 juta.


“Dari sisi pembeli, 37,77 persen investor membeli SR-008 di kisaran Rp 100 juta-600 juta. Sementara jumlah investor yang membeli SR-008 kurang dari Rp 100 juta mencapai 36,35 persen,” ujarnya.


Robert mengakui, penerbitan SR atau ORI memang menyedot dana masyarakat. Tapi hasilnya pun tidak disimpan lama-lama dan masuk lagi dalam sistem perbankan.
Target bruto penerbitan surat utang 2016 sebesar Rp 542 triliun dan di saat yang bersamaan ada juga SBN yang jatuh tempo sekitar Rp 200 triliun. Dari total ini pun porsi asing diatur.


''Di sisi domestik, kalau pemerintah cepat membelanjakan lagi, harusnya bisa masuk sistem lagi. Jadi tidak dibiarkan saja di kas negara,'' ungkap Robert.


Pemerintah, kata Robert, sedang mengajarkan masyarakat untuk menggunakan surat berharga yang sifatnya berbeda dari produk perbankan. Robert menyatakan, dengan mempertimbangkan kondisi melihat pasar sekunder dan suku bunga BI, pemerintah menganggap imbal hasil SR-008 sebesar 8,30 persen cukup kompetitif.


Sementara itu, peluang penerbitan efek beragun aset (EBA) syariah melalui POJK 20/2015 disambut positif. Hal ini karena instrumen tersebut dinilai bisa membuka peluang bagi bank syariah untuk mendapat tambahan likuiditas.


Komisaris Utama Asia Raya Kapital Syafi'i Antonio mengatakan, Asia Raya Capital sedang mengkaji EBA Kontrak Investasi Kolektif (KIK) dan EBA Surat Partisipasi (SP) yang diregulasi aturan OJK tersebut. EBA KIK membuka peluang bagi bank syariah dan manajer investasi untuk membuat struktur yang cocok untuk dimanfaatkan.


Sehingga pelaku keuangan syariah tidak hanya menunggu sukuk baru tapi bisa menggunakan aset yang ada untuk membuka produk dan peluang baru. Tapi, pemanfaatan produk ini harus mempertimbangkan peluang likuiditas dan kondisi ekonomi.


''Kajian yang sedang berlangsung di Asia Raya Kapital tentang EBA KIK. Direksi Asia Raya Kapital sedang membidik beberapa prospek. Ada juga restrukturisasi beberapa perusahaan yang butuh tambahan likuiditas,'' ungkap Syafi'i. imm
Share on Google Plus

About Nadi Usea