METAMORFOSA

Puisi-Puisi Real Teguh

Pancasila
satu, Ketuhanan yang Maha Esa
Esa itu berarti satu
Tuhan hanya satu
tidak berbapak tidak beribu
dan tidak bersekutu

yang mencipta kamu
dari saripati berasal dari tanah
dan disimpan dalam rahim
menjadi sesuatu yang melekat
kemudian tulang belulang
dibungkus dalam daging
ditiupkan ruh
menjadi makluk yang berbeda
sesempurna manusia
maka nikmat Tuhanmu yang mana
yang kamu dustakan?
(Surabaya, 28 Oktober 2015)



 BARA AKHIR ZAMAN
Ya Rasulallah ...
Memperjuangkan agama ini
Layaknya menggenggam bara
Bila dilepaskan padam
Bila dipertahankan panas merajam
Ya Rasulallah ...
Islam telah terpecah belah
Padahal dua pusaka telah engkau wariskan
Al-Qur’an dan As-Sunah sebagai pedoman
Sepertinya kami enggan mengambil pelajaran.
Negeri kami dilanda kekufuran
Timur Tengah dalam kekacauan
Muslim minoritas ditenggelamkan
Perang yang dikoar-koarkan
Bukannya melawan kaum pembangkang
Justru perang demi kekuasaan
Adapun jihad, diartikan asal bom diledakkan
Kami pun dicap teroris, apatis, ekstremis.
Di negeri kami banyak orang berilmu
Tuan berdasi, birokrat sampai mahaguru
Tapi kepintarannya untuk main tipu
Tanah air kami titisan surga, katanya
Rakyat miskin berkurang bukan karena kesejahteraan
Tapi diungsikan ke rumah masa depan.
Ya Rasulallah ...
Pengaduan ini seperti rengek balita pada sang ibu
Mampukah kami meraih syafaatmu?
(Surabaya, 10 November 2015)


Tuhan
Ketika asma-Mu dihinakan
Engkau diam
Ketika perintah-Mu dilecehkan
Engkau biarkan
Ketika keberadaan-Mu diperdebatkan
Engkau tetap tenang
Ya Tuhan
Ternyata Engkau benar Tuhan
Lebih dari tuhannya tuantuan
Cukup tak mengucurkan hujan
Para pembangkang kelabakan
Azab sangat gampang Engkau timpakan
(Surabaya, 28 Oktober 2015)



di batas senja
usia telah purna
aku ingin pulang saja
mengawinkan rindu bersama-Nya
dari kehidupan yang menjemukan
dari perjalanan yang melelahkan
dari apa saja yang melenakan
antarkan aku di pusara keabadian
di sanalah kujumpai kedamaian
aku pulang dan jangan tanyakan lagi
kapan aku akan kembali
(Surabaya, 02 Oktober 2015)


Karya : Teguh Wibowo
Share on Google Plus

About Nadi Usea