Co Working Space Bisa Geser Perkantoran


Wakil Presiden Direktur PT Intiland Development,tbk,
Sinarto Dharmawan dan Pengamat Tata Kota ITS
saat menjadi nara sumber dalam diskusi
 "Menerawang Geliat Bisnis PropertI di tahun 2017"
di Surabaya.|DUTA/WIWIEK WULANDARI
SURABAYA – Kota Surabaya terus berkembang. Era teknologi dengan akses internet yang mejadi porosnya menjadikan industri kreatif berkembang sangat pesat. Dan mayoritas pelakunya yakni entrepreneur muda, usia produktif yang menggunakan pola anti  mainstream. Tidak mau formal, tidak berkantor tetap namun tetap produktif. 

Dan tren model perkantoran atau ruang kerja di Kota Surabaya semakin mengarah pada konsep Co-Working Space sejalan dengan perkembangan kehidupan sosial dan teknologi.  konsep Co-Working Space secara perlahan akan menggusur perkantoran yang ada selama ini.

Sepeti dikatakan pengamat tata kota dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Johan Silas, siklus tren cara bekerja dan ruang kerja co-working space ini juga terjadi di luar negeri. Dimana masyarakat kini cenderung membentuk komunitas untuk bisa berkreasi.

 “Konsep seperti ini yang nanti akan berkembang. Itu sebabnya kenapa Surabaya membuat banyak taman, karena untuk menampung masyarakat dalam berkomunitas, untuk dimanfaatkan sebagai tempat berkumpul membicarakan bisnisnya,” katanya dalam Focus Group Discussion Jurnalis Ekonomi Bisnis Surabaya (Forjebs), Periskop: Menerawang Geliat Bisnis Properti 2017, Senin (28/11/2016).

Sementara itu, Wakil Presiden Direktur PT Intiland Development Tbk, Sinarto Darmawan mengatakan Co-Working Space atau ruang kerja bersama (konsep terbuka/tertutup dengan fasillitas taman) ini sudah mulai banyak diminati pekerja terutama usia muda dan yang bergerak di industri kreatif.

“Ada satu contoh, di mana banyak orang-orang Jakarta yang datang ke Surabaya dan mereka enggak punya tempat untuk mengerjakan pekerjaannya. Nah keberadaan mereka bisa bekerja di co-working space ini,” jelasnya.

Sinarto mengatakan, Intiland sendiri akan kembali membuat co-working space di Surabaya Barat tepatnya di Gedung Spazio untuk menumbuhkan kehidupan sosial dan ekonomi di kawasan tersebut.

“Dulu kalau orang bekerja itu tersembunyi oleh sekat-sekat, tapi sekarang tidak bisa, anak muda kalau kerja harus bisa melihat orang lain, dan itu bisa mempengaruhi kreatifitas. Selain itu bisnis juga membutuhkan gengsi tinggi, konsep ini sudah jadi tren dan kalau kami yakin, kami akan buat,” ujarnya.

Sinarto menambahkan secara bisnis, co-working space ini merupakan nilai tambah yang diberikan pengembang kepada pembeli properti untuk mengembangkan kawasan tersebut.

“Dengan menyediakan space ini, akan terjadi geliat ekonomi, dan semakin banyak kegiatan di tempat kita, maka akan semakin baik,” imbuhnya.

Di Surabaya sendiri sudah mulai bermunculan co-working space, seperti Nin3 Space di Jl Ketintang Madya, Revio di Jl. Kaliwaron, SUB. Coworking space di Jl. Darmo Harapan Surabaya Barat, Regus Surabaya di Sinar Mas Land Plaza, Forward Factory di Gedung Spazio, dan Gedung Creative – Digital Hub di Jl. Manyar Tirtomoyo. (imm)
Share on Google Plus

About Nadi Usea