“Evolusi Kemanusiaan”

Oleh: Mustofa



SETIAP manusia dilahirkan dalam keadaan suci. Kesucian asal itu bersemayam dalam hati nurani, yang mendorongnya untuk senantiasa mencari, dan berbuat yang baik dan benar (Nurcholis Madjid, 2009). Hiruk pikuk kehidupan yang rentan dengan kesombongan dan kemunafikan, seringkali membuat manusia tergelincir, meskipun kondisi primordialnya suci, tetapi mereka adalah makhluk yang lemah, rentan berbuat khilaf, sehingga begitu mudah terperangkap dalam lembah dosa. Sifat inilah sejatinya harus disadari oleh manusia untuk kembali kepada Tuhan merenungi segala sifat-sifat buruk kita dan meningkatkan keimanan, sehingga dari refleksi keimanan akan terpancar nilai-nilai kebenaran dan kebaikan.
"Ada dua potensi bagi manusia, yaitu mereka akan menjadi sangat mulya bahkan lebih mulya daripada malaikat sekalipun, tetapi manusia juga akan menjadi hina, lebih hina dari makhluk apapun. Kita pilih yang mana?"

Mari kita ingat kembali misi penciptaan manusia sebagai pemimpin di muka bumi, sesuai misi penciptaanya manusia memunyai tanggung jawab besar untuk menjaga kedamaian dan menebar kasih di muka bumi dengan keadilan tanpa batas-batas sempit yang eklusif. Semua manusia sama sederajat yang membedakan hanya tingkat ketundukan dan kepasrahan terhadap Tuhan. Masing-masing pribadi manusia memunyai nilai kemanusiaan universal, maka dengan alasan apapun kekerasan apalagi dengan mengatasnamakan agama adalah kegilaan dan sesat pikir. Memang seringkali agama ditampilkan dengan dua sisi wajah yang berbeda, agama yang penuh kasih dan damai, agama yang mengerikan penuh kekerasan.

Agama diturunkan ke muka bumi untuk membangun peradaban bukan justru menghancurkan tatanan. Semangat keagamaan adalah semangat kemanusiaan, memulyakan manusia dan membahagiakan kehidupan manusia. Dengan agama manusia dituntun untuk mengenal Tuhan bukan untuk menjadi Tuhan sehingga menjadi sombong dan gemar menghakimi. Dalam penciptaannya manusia begitu dimulyakan hingga Malaikat harus bersujud menghormatinya. Hanya iblis yang tidak bersedia bersujud ia merasa lebih besar, lebih mulya, dan lebih patuh pada Tuhan. Sifat iblis ini sering kita temukan dalam sifat manusia yang merasa lebih benar, paling taat sehingga memandang yang lain lebih rendah dari dirinya. Kesombongan ini bersemayam dalam hati manusia tanpa disadari sehingga ia lupa bahwa dirinya manusia dan harus memanusiakan manusia, bukan iblis yang merendahkan manusia dan menganggap manusia ancaman bagi eksistensinya.

Jika kita membaca kitab suci di situ secara ekplisit dan implisit disebutkan bahwa manusia adalah makhluk yang sempurna keberadaannya sangat dimulyakan. Bahkan proses penciptaan Adam dalam Alquran surat Al-Baqarah ayat 30 tidak sesederhana seperti penciptaan makhluk-makhluk Allah yang lain, ada dialok antara Tuhan dengan Malaikat. Tidak berlebihan kalau saya mengatakan ada proses musyawarah. Ketika Tuhan bertanya kepada Malaikat tentang rencananya untuk menciptakan Adam, awalnya malaikat “menolak”. Malaikat bertanya “mengapa hendak menciptakan manusia? Nanti hanya akan membuat kerusakan di muka bumi dan pertumpahan darah”. Lantas Tuhan menjawab, “Aku lebih tahu dari apa yang tidak kamu ketahui”. Kemudian malaikat dengan rasa  tunduk dan patuh setuju dengan rencana tersebut, hingga pada akhirnya malaikat bersujud menghormati Adam.

Apabila kita mengambil pelajaran dari proses penciptaan Adam (manusia) banyak makna yang dapat digali, bahwa tidak ada yang lebih mulya kecuali menjadi manusia. Segala yang diciptakan Tuhan di muka bumi, pohon, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan semua kenikmatan hanya untuk manusia. Pernah kita berpikir dan menyadari seluruh kenyataan ini? Mengapa masih banyak yang belum menyadari tentang manusia dan kemanusiaan?

Masih ingat dengan teori Darwin 1859, yang dikenal dengan teori evolusi “On the origin of Species by Means of natural selection, or the Preservation of Favoured Races in the Struggle for life. Teori tersebut saat ini juga relevan dalam kondisi yang terbalik, manusia berevolusi menuju binatang, karena keserakahan manusia yang luar biasa dan tak ada puasnya melambangkan mereka melampaui binatang. Tidak bisa dibayangkan dan mustahil dilakukan oleh binatang tentang potret buram pembunuhan terencana dengan membantai sangat keji, pemerkosaan dengan gerombolan kemudian membunuh, ratusan manusia dibom, tempat ibadah dibumi hanguskan, agama dijadikan sandaran untuk mengesahkan darah mereka yang berbeda pemahaman dan keyakinan.

Tidak mungkin terjadi dikerumunan satwa, korupsi dilakukan dengan jumlah yang nyaris tak masuk akal di tengah deraian air mata rakyat yang kelaparan. Lebih absurd lagi hal tersebut dilakukan kaum penguasa pejabat yang memunyai harta melimpah dan dipilih oleh rakyat untuk menyejahterakannya. Penegak hukum (hakim) yang dipercaya sebagai manusia setengah malaikat harus terkulai didepan tumpukan “kertas merah” sehingga menjual harkat dan martabatnya.

Tak bisa membayangkan dan tidak mungkin terjadi di kawanan ternak sekalipun, anak-anak generasi penerus bangsa diberi vaksin palsu hanya demi uang. Sungguh ironis, hidup membunun kehidupan. Teringat yang dikatakan Yudi Latif, seharusnya kewarasan memantulkan kesadaran bahwa hidup ini pendek, sedangkan kehidupan itu panjang. Demi keberlangsungan kehidupan tiap-tiap saluran pendek  sang hidup harus sama-sama mengalir menuju sungai panjang kehidupan yang menghanyutkan air hingga samudera impian kebahagian hidup bersama. Maka janganlah sekali-kali keserakahan hidup mengorbankan kehidupan.

Ada dua potensi bagi manusia, yaitu mereka akan menjadi sangat mulya bahkan lebih mulya daripada malaikat sekalipun, tetapi manusia juga akan menjadi hina, lebih hina dari makhluk apapun. Kita pilih yang mana?


Penulis adalah Dosen FKIP Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya 
Share on Google Plus

About Nadi Usea