Menipu, Pebisnis Batubara Dituntut Ringan

Terdakwa Eunike Lenny Silas dan Usman Wibisono
saat jalani sidang di PN Surabaya|Duta/Henoch Kurniawan
SURABAYA- Eunike Lenny Silas dan Usman Wibisono, dua terdakwa perkara penipuan bisnis batubara dituntut ringan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Putu Sudarsana dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jatim. Tuntutan ini dibacakan pada persidangan yang digelar di ruang sidang Candra Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Selasa (15/11). Oleh jaksa, kedua terdakwa hanya dituntut 6 bulan penjara dengan masa percobaan 1 tahun.

Menurut jaksa, ringannya tuntutan tersebut dengan alasan adanya perjanjian damai yang dilakukan oleh kedua terdakwa dengan Tan Paulin (korban sekaligus pelapor). “Perjanjian perdamaian terjadi saat ditengah proses persidangan sedang berjalan,” ujar jaksa sesaat usai sidang.

Meski begitu, penasehat hukum para terdakwa, HK Kosasi masih menyatakan tidak terima dengan tuntutan jaksa tersebut. “Harusnya jaksa berani untuk menuntut bebas. Selain ada perdamaian antar pihak, didalam persidangan pun berhasil digali fakta hukum bahwa apa yang didakwakan jaksa sama sekali tidak terbukti,” sesal HK Kosasi dikonfirmasi usai sidang.

Ia juga mengatakan bahwa, didalam persidangan telah terbukti bahwa permasalahan yang dialami kliennya tersebut adalah murni jual-beli. “Wanprestasi yang sudah lunas karena perjumpaan hutang,” tambah Kosasi.

Atas tuntutan jaksa tersebut, terdakwa melalui tim penasehat hukumnya bakal mengajukan pembelaan (pledoi) yang bakal dibacakan pada agenda sidang selanjutnya. “Semua fakta hukum yang selama ini terungkap dipersidangan, bakal kita eksplorkan melalui pledoi. Bakal kita buktikan bahwa para terdakwa layak bebas,” ujar pengacara yang berkantor di jalan Bubutan Surabaya ini.

Untuk diketahui, perkara ini bermula dari laporan Pauline Tan ke Polda Jatim 2013 lalu. Dalam laporan Tan Paulin dijelaskan, saat itu terdakwa Lenny dan terdakwa Usman Wibisono meminjam batubara sebanyak 11 ribu metrik ton dengan nilai Rp 3,2 miliar ke saksi korban.

Namun, peminjaman tersebut tidak pernah dikembalikan dan ketika dicek ke tempat penyimpanan batubara tersebut juga sudah tidak ada dan ternyata sudah terjual. Batubara itu dijual oleh pemilik izin pertambangan, H Abidin, atas perintah kedua terdakwa. Setelah didesak korban, kedua terdakwa  bersedia membayar dengan uang sebesar Rp 3,2 miliar melaui giro, tapi ternyata giro tersebut kosong.


Atas perbuatannya, kedua terdakwa didakwa melanggar Pasal 372 jo Pasal 55 tentang Penggelapan. Di tengah proses persidangan sedang berjalan, terjadi perdamaian antar kedua belah pihak berperkara. Majelis hakim PN Surabaya yang diketuai Efran Basuning menunda sidang tiga pekan kedepan dengan agenda pembacaan nota pledoi oleh tim penasehat hukum terdakwa. eno
Share on Google Plus

About Nadi Usea