21 Hari Tersangka Makar ‘DIKUPING’ POLISI

JAKARTA - Polisi mulai membeber alasan, mengapa harus menangkap 11 orang. Macam-macan tuduhannya. Dari diduga akan melakukan makar, penghinaan penguasa, sampai penghasutan sesaat sebelum aksi damai Jumat 2 Desember berlangsung. Kadiv Humas Polri Irjen (Pol) Boy Rafli Amar menyebut alasan penangkapan itu agar aksi damai tidak diintervensi kepentingan lain.

"Dalam hal ini (penangkapan 11 orang), langkah-langkah ini dapat dikatakan dipilih Polri sebagai langkah upaya sebagai strategi Polri menjaga kemurnian niat kegiatan ibadah di Silang Monas terjaga dan mengeliminir berbagai adanya indikasi kerawanan yang dapat dimungkinkan terjadinya semacam pemanfaatan terhadap massa," ujar Boy di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta Selatan, Sabtu (3/12) kepada wartawan.

Menurut Boy, masyarakat yang awalnya tertib dan damai bisa saja berubah sikap bila dimasuki provokasi. Sementara itu, kesebelas orang yang ditangkap telah ditelusuri Polri selama lebih dari 3 pekan alias 21 hari dan terindikasi kuat akan memanfaatkan massa aksi.

"Ketika ada provokasi, kami tak ingin niat tulus alim ulama masyarakat yang hadir untuk doa bersama disusupi terhadap adanya niat lain. Maka, hal itu kita cegah. Intinya, tindakan hukum ini untuk mencegah jumlah massa yang besar yang tentu sangat rentan dipengaruhi," ujar Boy.

Beberapa dari mereka disebut Boy berniat untuk menggiring massa aksi damai di Monas untuk berpindah ke gedung MPR/DPR RI. Ada niat untuk mendorong MPR menggelar sidang istimewa. Dugaan polisi ini memang sejalan dengan informasi ajakan yang beredar di Medsos, bahwa, massa akan mampir ke gedung DPR/MPR di Senayan.

Polisi tetap bersikukuh, bahwa, mereka berencana makar, bukan sekedar kritik.  Boy menegaskan bahwa secara definisi, makar dan kritik berbeda.  

"Ini bukan kritik. Kritik dengan makar berbeda. Kritik memberikan masukan kepada pemerintah dengan pandangan kritis lumrah di negara demokrasi. Tetapi hukum tetap harus dipegang," ujar Boy.

Boy menjelaskan, dalam negara demokrasi diperbolehkan kritik. Namun hal itu harus sesuai dengan ketentuan hukum yang ada.

"Kita harus sadar bahwa ada hukumnya. Jangan sampai di negara hukum kita serba boleh. Tidak demikian implementasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ini juga yang akan kita sadarkan ke masyarakat," paparnya.

Sejumlah orang setelah diperiksa dilepas. Berbeda dengan tersangka Sri Bintang Pamungkas serta tersangka Jamran dan Rizal. Ketiganya ditahan di Polda Metro Jaya, dan masih menjalani rangkaian proses pemeriksaan.

"Tersangka SBP saat ini masih dilakukan penahanan. Jadi terhadap beliau belum bisa kembali dan ini sedang menjalani proses pemeriksaan penyidik Polri," kata Boy.

Boy menjelaskan Sri Bintang Pamungkas ditahan berkaitan dengan konten dalam media sosial. "Terutama YouTube pada November 2016, ajakan terkait upaya penghasutan kepada masyarakat luas melalui medsos," ujar dia.

Menurut Boy, tim penyidik Polri telah mengantongi bukti-bukti. "Barang bukti rekaman sudah ada dan dalam proses pemeriksaan oleh ahli IT, ahli bahasa dan pidana. Itu yang dilakukan penahanan," katanya.

Selain Bintang Pamungkas, penyidik Polri menahan Jamran dan Rizal. "Ada dua lagi warga negara kita, ini kakak beradik. Jadi Saudara Jamran dengan Rizal yang berkaitan dengan hate speech, ujaran kebencian yang bernuansa permusuhan terhadap isu-isu SARA ditersangkakan Pasal 28 ayat 2, UU 11/2008 dan Pasal 107 KUHP dan/atau 110 KUHP," jelasnya.

Beberapa barang bukti yang diamankan berupa konten-konten dan alat komunikasi yang bersangkutan yang teridentifikasi di minggu keempat November 2016 melakukan posting ujaran kebencian. "Polri menilai sangat berbahaya, bisa menimbulkan kemarahan massa, bisa menimbulkan antipati massa terhadap pemerintah, dan tentunya tidak mendidik," ujar dia. 
Terbaru, polisi terus mendalami siapa penyandang dana dugaan makar oleh Rachmawati Soekarnoputri dan kawan-kawan ini. Sejauh ini penyidik masih terus mengolah data dan bukti yang ditemukan.

"Nanti kan masih dalam pemeriksaan semua, apakah ada uang-uang dari pihak lain. Apakah ada penyandang dana, pasti didalami semua," ujar Boy.

Adanya kemungkinan tersangka lain, lanjut Boy, bisa saja terjadi. Semua tergantung dari penyidikan anggota di lapangan. "Kemungkinan tersangka lain dibilang mungkin, ya mungkin. Kita tunggu saja nanti perkembangan pemeriksaan yang lebih jauh. Barang bukti yang didapat atau alat bukti yang diperoleh penyidik itu nanti dijadikan bahan," paparnya.

Polisi juga mempersilakan para tersangka makar menggugat ke pengadilan jika memang keberatan. "Penegakan hukum oleh polisi bisa digugat, ada mekanismenya, dan negara kita ini ada satu sistem," kata Kabag Penum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul dalam diskusi Polemik Sindo Trijaya di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (3/11).

Hingga saat ini, Martin mengaku belum mendapat informasi 11 orang yang ditangkap akan menggugat. Jika nanti memang akan digugat, Polri menyatakan siap. "Biar kita uji di pengadilan," ujar Martinus.

Sementara, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, bahwa, meyakini polisi tidak sembarang menangkap orang.

"Polisi dan aparat melakukan hal itu, tentu sudah pelajari undang-undang yang ada, bukti permulaan yang dimiliki. Logika saya, karena para aparat enggak mau sembarangan," kata Sutiyoso.

Disebutkannya, kondisi aksi damai 2 Desember yang ramai oleh massa membuat rawan ditunggangi oleh pihak manapun. Sehingga penangkapan harus dilakukan dengan hati-hati. 

"Iya (harus hati-hati). Oleh karena itu kita harus sama-sama bertanggung jawab, kelompok masyarakat seperti itu rawan diprovokasi. Mungkin beliau-beliau memenuhi kriteria itu," kata pria yang akrab disapa Bang Yos itu.

Seperti diketahui Polri mengkonfirmasi telah menangkap sebelas tersangka terkait penagkapan pada Jumat (2/12). Selain Bintang Pamuskas dan kakak beradik Jamran-Rizal, mereka yang ditangkap di antaranya adalah Ahmad Dhani, Rachmawati Soekarnoputri, Ratna Sarumpaet, dan Kivlan Zein. 

Boy Rafli Amar bahkan menyebut satu orang lagi yang belum disebut sebelumnya, yaitu Alvin Indra. Dia ditangkap di daerah Kedungwaringin, Tanah Sareal, Bogor, Jawa Barat. 

Ahmad Dhani pun angkat bicara seputar penangkapannya. Musisi ini membongkar cerita di balik pertemuan dengan teman-temannya yang diduga makar itu. Suami penyanyi Mulan Jameela ini awalnya ditangkap tanpa perlawanan di Hotel Sari Pan Pacific pada Jumat (2/12) sekitar pukul 03.00 sampai pukul 06.00 WIB. Polisi kemudian menetapkan Ahmad Dhani sebagai tersangka. Dia dikenai pasal 207 KUHP tentang penghinaan terhadap penguasa. 

Ahmad Dhani dalam kondisi sehat dan santai selama menjalani proses pemeriksaan di Mako Brimob. Dia tidak ditahan setelah menjalani pemeriksaan nan panjang. "Kronologi penangkapannya seru, kayak PKI-lah," kata Ahmad Dhani sambil tersenyum simpul.

Bos Republik Cinta Management ini mengaku tidak banyak dicecar pertanyaan oleh polisi. Dia dimintai keterangan seputar pertemuan 1 Desember di Hotel Sari Pan Pacific yang diduga makar atau penggulingan pemerintahan yang sah.

"Cuma meeting di rumah Mbak Rachma, siapa yang mendanai jumpa pers, apa yang disiarkan waktu itu. Saya jawab waktu itu demo di Gedung DPR berkaitan dengan memenjarakan Ahok dan kembali ke UUD 45 dari GNSKRI," katanya sambil optimistis tidak ada pemeriksaan lanjutan. Dia merasa penetapan status tersangkanya terkesan dipaksakan.

"Saya yakin enggak ada ya, karena penetapan tersangka agak dipaksakan, karena di dalam pasal 107 itu menggulingkan kekuasaan atau makar harus dilakukan dengan cara tidak sah atau inkonstitusional," beber dia. (dtc,hud)
Share on Google Plus

About Nadi Usea