AKP Munir Berkali-kali Telepon Istri, Berpesan Hati-Hati

Duka Keluarga Para Pilot, Penumpang Pesawat Polri yang Jatuh


Istri AKP Abdul Munir dan keluarga menunjukkan foto
 saat AKP Munir dalam tugas.|IST
Pesawat M 28 Sky Truck milik Polri yang jatuh di Perairan Lingga, Kepulauan Riau membawa 13 penumpang. Tiga di antaranya pilot, salah satunya AKP Abdul Munir. Sang istri punya firasat menjelang kepergian Munir.

DALAM penerbangan maut itu, AKP Abdul Munir sedianya ditugaskan sebagai pilot helikopter Kapolda Batam.  "Dia sebagai penumpang. Dia ke sana untuk menerbangkan pesawat helikopter di Polda Batam. Tugasnya pilot di pesawat charter di pesawat Kapolda," kata adik kandung AKP Abdul Munir, Chairu Bustama (Heru), saat ditemui di rumah almarhum kakaknya, di Perum Villa Dago, Pamulang, Tangerang Selatan, Minggu (4/12).

Heru mengatakan, AKP Munir bertugas di Polri sejak 2003. Menurut Heru, setiap sebulan sekali memang ada pergantian tugas dan terakhir AKP Munir bertugas di Bandung untuk test drive pesawat. "Kemarin saya dapat info dari dia, karena Sabtu kemarin saya main ke sini (rumah Munir), dia dapat informasi kalau rencananya tugas di Batam, dalam 1 bulan itu," ujar Heru.

"Sebelum tugas (di Batam), dia ada tugas kurang lebih sebulan di Bandung, setiap Sabtu dia pulang. Dia sebagai test drive-nya. Karena pesawat charter tersebut sedang dalam perbaikan. Malah yang awal kita khawatirkan di situ," sambung Heru.

Sementara AKP Safran mencium putri tercintanya
sebelum terbang berujung maut.|IST
Heru menyebut, kakaknya itu tinggal di rumah tersebut bersama istri dan dua anaknya. AKP Abdul menikah dengan Sessy Aryanthi. Pasangan ini dikaruniai dua anak. Yakni, Kayyisha Mahening Prameshti, 7 tahun, yang kelas dua SD, dan Cessaero Shariq Alpheratz, 5 tahun, masih TK.

 Heru mengatakan, keluarga sudah ikhlas mengenai keadaan AKP Munir. Seandainya ditemukan dalam keadaan tak bernyawa, maka diharapkan semoga ditemukan dalam keadaan utuh.

"Kita kan inginnya pertama selamat, kalaupun memang tidak bisa, ya namanya takdir telah tiada. Permintaan kita kalau bisa ya bisa ditemukan. Insya Allah utuh seutuh-utuhnya. Saya barusan telepon, masih akan diidentifikasi terlebih dahulu," tutur Heru.

Firasat Istri Munir
Di tempat yang sama, istri AKP Munir, Sessy, bercerita mengenai kebiasaan tak biasa sang suami sehari sebelum kecelakaan pesawat terjadi di Perairan Kepulauan Riau. Munir menelepon Sessy berkali-kali dan berpesan agar berhati-hati.

"Hari Jumat itu saya enggak tahu kenapa tiba-tiba biasanya tidak telepon, ini ditelepon berkali-kali. Waktu itu dia missed call, ketika dia telepon saya lagi, saya angkat," tutur Sessy.

Sessy bercerita, awalnya Munir menanyakan kabar dua anak mereka. Namun, di akhir obrolan, Munir berpesan agar berhati-hati.

"Nanyain kabar anak-anaknya, tapi di akhir pembicaraan dia bilang 'hati-hati ya'. Itu kata-kata yang tidak biasa dia ungkapkan. Kalau biasa dia nanyain saya di mana, itu selalu lewat WA, bukan telepon," cerita Sessy.

Sessy tampak tegar menyambut satu persatu tetangga dan sanak saudara yang datang menjenguk. Pihak keluarga masih menunggu kepastian mengenai AKP Munir. Pihak keluarga terus memantau pemberitaan baik melalui televisi maupun media lainnya.

"Semoga diberi kekuatan, hanya itu harapan saya. Pihak kepolisian udara sudah berembug bahwa kalau ada apa-apa segera dikabari," ujar Sessy.

Abdul Munir sejak kecil bercita-cita menerbangkan pesawat. Perwira menengah berpangkat AKP itu sudah menggilai dunia penerbangan sejak masih kanak-kanak. Kegemarannya pada kedirgantaraan muncul lantaran rumah orangtuanya hanya sejengkal dari Bandara Soekarno Hatta.

Rumah sederhana di Kampung Pintu Kapuk, Desa Teluknaga, Kecamatan Teluknaga, Kabupaten Tangerang itu ditempati enam anggota keluarga, termasuk AKP Munir yang merupakan anak ke-2 dari 4 bersaudara.

"Namanya berbatasan dengan bandara, setiap hari kami melihat pesawat terbang hilir-mudik. Mungkin waktu itu, Kak Munir hanya mimpi merasakan naik pesawat," ujar Chairu Bustaman atau Heru, adik Abdul Munir.

Di keluarganya, AKP Munir dikenal sebagai sosok yang kuat pendirian. Dia berusaha keras meraih cita-cita di dunia penerbangan. Orangtuanya yang berprofesi sebagai juru tulis terkekeh mendengar keingin AKP Munir. "Dia kalau sudah berkeinginan, itu harus. Dia punya komitmen kuat, yang dia inginkan pasti dikerjakan," ujar Heru.

Abdul menempuh pendidikan di SD Rawa Rengas 1. Sedang jenjang pertama dan atas dihabiskan di SMPN 1 dan SMUN 6 Tangerang.  "Sekitar tahun 1998 dia masuk Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) di Curug," kata Chairu.

Karirnya sebagai penerbang tidak mulus begitu saja. Dia yang merupakan angkatan 57 STP Curug, awalnya sempat melamar ke beberapa perusahaan penerbangan swasta. Sampai akhirnya ada penerimaan calon penerbang Polri. "Dia lulus pendidikan PPSS tahun 2003, langsung berkarir sebagai pilot di Polisi Udara Mabes Polri," tegas Chairu.

Keahlian Ganda AKP Safran
Selain AKP Abdul Munir, pilot kepolisian yang juga turut jadi korban jatuhnya pesawat jenis Skytruk milik Polri adalah AKP Safran. Bapak dua anak ini bisa menerbangkan pesawat sejenis Cassa maupun helikopter. Sebelum terbang, Safran sempat mencium putrinya. Dan itu adalah ciuman terakhir, karena pesawat yang diterbangkan jatuh di perairan  antara Bangka dengan Batam.

Rekan satu angkatan AKP Safran, yakni Kompol dr Mansuri yang bertugas di RS Bhayangkara Palembang, menuturkan rekannya itu merupakan Lulusan Sumber Sarjana Polri tahun 2004 yang berasal dari Palembang.

"Memang Safran dari Sekolah Penerbangan dan usai lulus pendidikan Sumber Sarjana langsung ke penerbangan di Mabes Polri. Selama pendidikan memang memegang pesawat berbadan kecil seperti yang hilang kontak saat ini. Tetapi ia kembali menempuh pendidikan untuk menjadi pilot helikopter dan memang biasa menerbangkan helikopter Polri," kata dr Mansuri.

Informasi yang diperolehnya dari sesama rekan satu angkatan, AKP Safran rencananya ditugaskan atau BKO ke Polda Sumsel untuk menggantikan kru helikopter milik Polda Sumsel. Setiap beberapa bulan, memang biasa dilakukan change crew atau pergantian kru helikopter di setiap polda.

AKP Safran dijadwalkan tiba di kota kelahirannya selama beberapa bulan untuk menerbangkan heli milik Polda Sumsel. Namun nasib berkata lain. Sebelum tiba di Palembang, pesawat yang ditumpanginya hilang kontak saat menuju Batam.

Kabar hilang kontak pesawat Sky Truck tersebut membuat rekan-rekan satu angkatan AKP Safran menjadi khawatir. "Satu angkatan kami itu ada 150 orang, baik dari dokter, pilot, mekanik dan jurusan lainnya. Kalau untuk pilot dan mekanik pesawat dan helikopter sebanyak 17 orang, termasuk AKP Safran," cerita Kompol dr Mansuri.

Kekhawatiran Kompol dr Mansuri terhadap pesawat yang ditumpangi AKP Safran dan kru lainnya bukan tanpa alasan. Beberapa bulan lalu rekan Safran dan Kompol dr Mansuri juga meninggal karena pesawat yang ditumpanginya jatuh di Papua. Dia adalah Iptu Bayu.

Kompol Mansuri juga menceriterakan bahwa istri AKP Safran juga anggota Polri yang bertugas di Brimob Kelapa Dua Jakarta berpangkat AKP. Menurutnya, AKP Safran jarang pulang ke Palembang lantaran tugasnya selalu berpindah-pindah. "Jadi kami juga jarang bertemu, kalau ketemu dan berkumpul saat semuanya lepas dinas," ujarnya.

Kasat Polair Polresta Palembang Kompol CS Panjaitan yang juga rekan satu angkatan AKP Safran terkejut mendapat informasi babhwa AKP Safran berada dalam pesawat nahas tersebut.

"Biasanya kalau rekan satu angkatan mau ke Palembang, telepon dahulu mengabarkan akan ke Palembang. Namanya teman, kalau ada teman seangkatan mau ke Palembang pasti senang dan biasanya kami ajak berkumpul. Tetapi, Safran ini tidak memberitahu kami kalau mau ke Palembang. Apalagi mau di BKO kan ke Polda Sumsel," ujarnya.

Lima rekan AKP Safran yang bertugas di Polda Sumsel begitu mendengar kabar pesawat Polri jatuh, langsung mencari kebenaran informasi. Mereka baru yakin AKP Safran menjadi korban pesawat nahas itu setelah rekannya di Mabes Polri menginformasikan secara lengkap.

Bagi rekan-rekan di Polda Sumsel, AKP Safran merupakan pribadi yang gigih dalam bekerja, terutama dalam menjadi pilot pesawat di Mabes Polri. Ia juga pribadi yang ramah. Tak hanya kepada rekan seangkatan, kepada junior dan senior pun ia sangat ramah.

AKP Safran juga pernah bercerita pernah diminta bergabung dengan perusahaan penerbangan yang telah bekerjasama dengan Mabes Polri.

Namun, AKP Safran hanya menunggu perintah pimpinannya. Dan ia memilih mengabdi ke Polri sebagai tempatnya bernaung yang telah menjadikannya sebagai seorang pilot.


"Dedikasinya untuk Polri sangat besar. Meski saat pendidikan orangnya standar, maksudnya tidak terlalu pintar. Tetapi, setelah bertugas dan menjadi penerbang dirinya itu cukup diperhitungkan. Makanya, cukup banyak perusahaan yang ingin mengajaknya bergabung," cerita Kompol Panjaitan. Kini, Kompol Panjaitan hanya bisa berdoa agar AKP Safran dan seluruh kru dapat ditemukan selamat. dit, tri, meo
Share on Google Plus

About Nadi Usea