Dari Kecelakaan, Sewa Pesawat sampai Hilangnya Omset Ratusan Miliar

KISAH MENARIK DI BALIK DAHSYATNYA DOA BERSAMA DI MONAS

Mobil rombongan Aksi  Bela Islam III
dari Medan jungkir balik. Tak ada korban,
hebatnya mereka bangkit dan meneruskan
perjalanan dengan naik pesawat. (FT/emc)
Banyak kisah unik dalam aksi Bela Islam III di Silang Monas Jumat (2/12). Aksi super damai yang disertai salat Jumat berjamaah ini, diguyur hujan. Uniknya air hujan itu justru menjadi solusi mengatasi terbatasnya sarana wudlu.
BEGITU Ustadz Arifin Ilham naik panggung, dia lantunkan kata Allah.., Allah.., Allah.. diiringi doa. Suaranya yang serak-serak basah membuat hampir semua menangis sesenggukan. Dia mendoakan negeri, mendoakan bangsa, mendoakan pemimpin, mohon ampun kepada Allah swt.

Lalu, Syekh Ali Jaber membaca 12 ayat pertama surat Al Kahfi. Suasana menjadi semakin tenang. Dilanjutkan Habib Abdurrahman Segaf membaca doa Alquran, Allahummarhamna bil Qur'an. Suaranya yang merdu membuat hadirin menangis lagi.

“Betapa jauh hati ini dari Alquran ya.. Rabb. Mungkin dengan ini Engkau kumpulkan kami di sini, untuk mengingatkan kami agar kami kembali pada kalam-kalamMu. Faghfirli ya.. Rabb,” begitu doa Habib Abdurrahman. 

Tidak lama, Ustadz Bachtiar Nasir (UBN) memegang mic. Suara dan kata-katanya tak kalah seru. Orasi UBN membuat hadirin semangat. Tak lama,  KH Abdullah Gymnastiar atau Aa Gym, tampil menyejukkan dan lucu. Ia sempat menggoda Kapolri, mengajak berkhayal. Bagaimana jika Nabi Muhammad saw hadir saat ini bersama kita di sini.

“Mau bilang apa kita?” kata Aa Gym. Suasana semakin haru, banyak yang menangis.

Suasananya semakin sakral dan mengharukan. Apalagi setiap setengah jam, seakan malaikat Mikail memberikan gerimis kecil, durasinya kurang lebih 5 menit, setelah itu sejuk lagi. Awan menggantung seakan memayungi jamaah, angin sepoi-sepoi membuat stamina umat tetap kokoh. Sampai ada yang komentar, ketika haji, ada petugas khusus menyemprotkan air biar jamaah tidak pingsan kepanasan. Tetapi di Monas, Allah swt langsung menugaskan malaikat menjaga cuaca agar bersahabat.

Menjelang salat Jumat, hujan mulai lebat. Yang di atas panggung mengabarkan bahwa: "Allah kirimkan hujan supaya bapak ibu tidak repot antri wudlu," begitu suara yang terdengar.
Benar juga! Ribuan jamaah bisa berwudlu dengan air hujan. Air suci, yang menyucikan! Dan hujan baru berhenti selesai salat jumat. Banyak yang berujar: Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan? 
Uniknya lagi, makanan dan minuman melimpah ruah di sepanjang jalan. Benar-benar Almaidah yang berarti hidangan. “Kami dikumpulkan karena Almaidah 51, Allah limpahkan almaidah almaidah melalui para donatur di sepanjang jalan,” demikian salah seorang berdoa.

Masih banyak cerita menarik. Mulai jamaah yang rela long march ratusan kilometer atau bahkan mencarter pesawat. Bayangkan, sekitar 2.000 santri Pondok Pesantren Miftahul Huda II dan ratusan anggota ormas melakukan long march dari kampung halamannya Ciamis, Jawa Barat, menuju Jakarta.

Jarak 250 km itu mereka tempuh dengan berjalan kaki 4 hari 4 malam. Sudah barang tentu sangat melelahkan. Meski begitu mereka tetap bersemangat saat menjawab pertanyaan Ustad Erick Yusuf dari belakang panggung aksi super­damai 212.
Semangat santri Ciamis tersebut telah menginspirasi jamaah lain dari berbagai penjuru tanah air. Maklum mereka datang dengan cara tidak lazim. Cara tersebut ditempuh setelah kepolisian melarang jamaah menuju ibu kota dengan menggunakan angkutan umum seperti bus, truk, atau kendaraan pribadi.
Berbeda dengan peserta asal Payakumbuh, Sumatera Barat. Rombongan umat muslim dari tanah Minang itu menyewa dua pesawat, yakni Lion Air dan Sriwijaya Air, tujuan Jakarta. Mereka memilih menggunakan pesawat karena ada larangan bagi para pemilik bus untuk memberangkatkan peserta aksi.

 “Kami carter pesawat, kalau masih dilarang pakai Buroq,” ujar Irfianda Abidin, koordinator rombongan Sumatera Barat, saat berorasi di kawasan Patung Kuda Indosat, Jakarta.

Kisah lain dari Medan, tak kalah dramatis. Mereka menempuh perjalanan darat dengan mobil,  namun atas takdir Allah swt. mengalami kecelakaan. Mobilnya hancur. Untung tak ada korban. Dengan tetap senyum dan wajah ceria mereka melanjutkan perjalanan dengan pesawat.

Tak kalah menarik adalah hilangnya omset ratusan miliar akibat aksi 212, tetapi pengusaha justru malah lega. Wakil Ketua Umum Kadin DKI Jakarta Sarman Simanjorang mengatakan, setidaknya ada 30 ribu toko yang tutup sepanjang Aksi Bela Islam Jilid III.

Rinciannya, toko-toko itu tersebar di pusat perdagangan di sekitar kawasan Glodok, Mangga Dua, Tanah Abang, Thamrin City dan sejumlah pusat perdagangan lainnya yang berdekatan dengan pusat kegiatan yang dikenal dengan sebutan Aksi 212 itu.

“Kami juga memperkirakan omzet transaksi hari ini mengalami kerugian sekitar Rp 600 miliar. Sedikit lebih besar dari kerugian transaksi demo tanggal 4 November lalu,” ujar Sarman.

Menurut Sarman, angka Rp600 miliar itu berdasar perhitungannya tentang toko-toko beromzet Rp10 juta-Rp50 juta per hari yang tutup saat Aksi 212. “Ketika dirata-ratakan omzetnya Rp20 juta saja, maka dikali 30 ribu itu mencapai Rp600 miliar,” kata Sarman.

Lebih lanjut Sarman mengatakan, para pedagang memang kehilangan omzet yang tak sedikit. Namun, katanya, pedagang tetap merasa bahagia dan terharu lantaran Aksi 212 berjalan aman, damai, tertib dan lancar.

“Ini suatu aksi demo solidaritas yang luar biasa jumlahnya dan bisa berjalan seperti ini. Suatu gambaran bahwa rakyat Indonesia sangat dewasa berdemokrasi,” kata Sarman.

Menurut Sarman, tingginya kerugian akibat Aksi 212 terobati karena secara psikologis mengurangi kekhawatiran pengusaha untuk tidak menutup bisnisnya jika terjadi unjuk rasa sejenis pada hari-hari mendatang. Karenanya Sarman menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua pihak sehingga Aksi 212 berlangsung damai, aman dan tertib.

Di samping kisah unik, ada juga kisah menyedihkan. Betapa tidak, peserta aksi telah disusupi puluhan kardus minuman gelas ale-ale dan jenis teh yang diduga sengaja diracuni. Awalnya diketahui bermula di antara peserta aksi yang meminum minuman ringan tersebut merasa aneh dan pahit. Lalu ditemukan sedikit isolatif bening di pinggiran gelas.

Ketika isolatif dicabut, seketika air dari dalam gelas plastik memancar ke luar melalui lobang sebesar Jarum injeksi yang semula tertutup oleh isolatif tersebut. Melihat kejanggalan itu, suasana menjadi heboh dan didapati pada gelas-gelas yang lain juga ditemukan lobang yang ditutupi isolatif bening. Di antara peserta aksi berspekulasi bahwa minuman itu sengaja disusupi untuk mempengaruhi emosional peserta aksi menjadi tak terkendali dengan harapan merusak aksi super damai.

Selanjutnya minuman gelas yang telah tersebar di antara massa aksi, ditarik kembali dan dibawa ke tim relawan kesehatan Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI). Oleh tim BSMI, langsung dilakukan uji lab sederhana, hasil sementara dipastikan cairan itu tidak tercemar kandungan Sianida dan Arsenik.
Lebih lanjut puluhan kardus minuman gelas itu diamankan sebagai barang bukti dan beberapa gelasnya disimpan sebagai sampel untuk uji lab yang lebih lanjut. Belum jelas cairan apa yang dimasukkan gelas tersebut. (hud,em)
Share on Google Plus

About Nadi Usea