Warga 9 Desa di Bantaran Waspada

Bupati Fadeli saat sidak ke sejumlah titik terjadinya banjir
di kawasan Bengawan Solo di Lamongan
|DUTA/KADAM MUSTOKO
 
LAMONGAN – Perkembangan air Bengawan Solo (BS) membuat warga di sekitar sungai terpanjang di pulau Jawa ini ketir- ketir. Ketika air di posisi garis merah, namun trend air terbilang terus merangsek naik. Kondisi air di Bengawan Solo sangat mengkawatirkan. Meski posisi air berada di posisi siaga merah sejak akhir pekan lalu, namun hingga kini belum ada tanda-tanda surut.


‘’Padahal sejak Jumat (25/11) sudah siaga merah,’’ kata salah satu warga Laren, Kamis (1/12).

Sebaliknya, tren air di Bengawan Solo di Lamongan, semakin naik. Tren kenaikan air Bengawan Solo ini terlihat di sejumlah titk pemantauan. ‘’Saat ini tren air Bengawan Solo terus naik,’’ kata salahs atu petugas di lapangan.

Pada Kamis (1/12) pukul  02.00 berada di posisi 8,57 yang berarti melebihi siaga merah yang hanya 8.00. Di Laren pada pukul 12.00 sudah diposisi 6.08 padahal  siaga merah di titik ini hanya 5.50. Di dua titik pemantauan air Bnegawan Solo di Lamongan ini tren air menunjukkan naik.

Sedangkan posisi air di  Karanggeneng  pada pukul 12.00 berada di posisi 4.67 padahal siaga merah diposisi 4.50. Di Suis Kuro, Kecamatan Karangbinangun berada di posisi 2.50 padahal siaga merah berada di posisi 2.50. Di dua titik ini air berkecenderungan stabil.

Pantauan di lapangan juga menunjukkan, stabilnya posisi air di Karanggeneng dan Karangbinangun ini dikarenakan pengaruh Floodway (SudetanBengawan Solo) di Laren menuju Sedayulawan, Kecamatan Brondong. Sudetan ini terus membuang air Bengawan Solo ke laut Jawa.  

‘’Kalau tidak ada Floodway, bisa jadi air di bagian hilir (wilayah Lamongan) terus naik,’’ kata Kabag Humas Setkab Lamongan, Sugeng Widodo.

Kepala BPBD Lamongan Suprapto mengungkapkan bahwa akibat luapan air Bengawan Solo, selaian mengakibatkan tangkis wedokm jebol, juga ada perkampungan yangmtergenang air. Setidaknya ada perkampungan di wilayah 9 desa di wilayah Kecamatan Laren tergenang air dengan ketinggian 10-30 cm.

‘’Semua perkampungan yang terendam air ini berada di bantaran Bengawan Solo,’’ katanya.

Diluar daerah ini, lanjutnya, bisa dibilang masih aman. Pasalnya, kondisi tangkis nasional, masih tinggi. Sedangkan pemukiman yang terendam air itu berada di bantaran,’’ katanya.

Meski terbilang aman, lanjutnya, pihaknya tidak mau kiecolongan. Karena itu, pihaknya mempersiapkan logistik, termasuk glangsing, terpal, gedek guling, bambu dan peralatan lainnya. ‘’Kami juga selalu koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk kepada masyarakat,’’ katanya. (dam)




Share on Google Plus

About Nadi Usea