Memaknai Arti Berbagi dan Tumbuh Bersama

Oleh Eko Prasetyo
Pemred Media Guru Indonesia


Judul buku      : Berbagi Pengalaman Mengajar
Penulis           : Ufar Ismail, Rohani Cahyaning, Hariani Susanti, Dkk
Penerbit         : Jengker Media Kreatif
Cetakan          : Pertama, November 2016
Tebal              : 270 halaman
ISBN               : 978-602-14886-6-9



Jamak kita jumpai bahwa banyak sosok hebat karena prestasi di bidang tertentu. Sayangnya, tak sedikit di antara mereka yang enggan berbagi dengan berbagai alasan. Salah satu satunya, khawatir ilmunya disaingi oleh yang lainnya.

Sekilas ini terdengar agak lucu. Akan tetapi, di lingkungan pendidik, hal seperti itu masih dapat dijumpai. Karena itu, dalam berbagai kesempatan, Ketua Dewan Pembina Ikatan Guru Indonesia (IGI) Mohammad Ihsan selalu mengingatkan akan pentingnya sinergiHal ini ditekankan untuk merujuk kembali semboyan IGI sebagai salah satu organisasi profesi guru terbesar di tanah air. Moto tersebut adalah sharing and growing together (berbagi dan tumbuh bersama).

Buku Berbagi Pengalaman Mengajar ini mencoba menera ulang moto itu dalam aplikasi yang nyata. Buku ini memang ditulis secara bersama-sama oleh guru-guru yang tergabung dalam IGI Kabupaten Bojonegoro. Walaupun berujud antologi atau karya bersama, justru hal itulah yang menawarkan kekayaan tersendiri. Penuh warna.

Sesuai judulnya, yakni Berbagi Pengalaman Mengajar, buku ini benar-benar penuh warna. Artinya, sebanyak 34 guru menumpahkan pengalaman terbaiknya menempa anak-anak bangsa dengan berbagai cerita inspiratif. Hasilnya sungguh luar biasa.

Inspirasi pertama langsung tersaji di pembuka buku ini. Ufar Ismail, kepala SMPN 1 Bojonegoro, dengan apik menuturkan pengalamannya lewat artikel Harta Benda Bukan Segalanya untuk Kehidupan Anak. Ia menyampaikan kisah seorang siswa bernama Joko yang enggan bersekolah lantaran punya masalah. Ia berasal dari keluarga yang berkecukupan. Kedua orang tuanya bekerja di perbankan. Tetapi, Joko tidak bahagia.  

Setelah ditelusuri Ufar, akar persoalan terletak pada minimnya komunikasi antara orang tua dan si anak. Ufar yang menjadi kepala sekolah di tempat Joko menimba ilmu mencari jalan keluar dengan memulihkan kepercayaan diri Joko dan komunikasinya dengan pihak keluarga. Problem ini akhirnya  happy ending  (hlm. 19-21).

Tulisan yang tak kalah menggugah dituturkan dengan apik oleh Rohani Cahyaning Pratiwi. Kepala SMAN 1 Bawen. Secara lugas ia menyampaikan pengalamannya ketika ditempatkan di sekolah yang mblusuk (terpencil). Jalan untuk menuju ke sekolah itu lumayan menantang. Rohani harus berjibaku melewati hutan sebelum sampai sekolah tempatnya mengabdi. Karena cara mengajarnya yang membuat para siswa nyaman, Rohani segera menjadi idola di sekolah.

Hingga suatu pengalaman mengharukan terjadi ketika ia dipindahtugaskan ke SMAN 1 Balen. Ia menyampaikan filosofi yang begitu menyentuh untuk menggambarkan situasi tersebut. Yakni dalam berperilaku dan bertindak, seseorang harus pinterbenerlan koberKober di sini maknanya adalah kesungguhan meluangkan waktu untuk konsistensi keteladanan (hlm. 30-31).

Kisah menarik lain dituturkan oleh Musthofa dari SMPN 2 Kedungadem. Ia langsung menyoroti siapa yang salah bila anak membenci bahasa Inggris. Hal ini tentu saja menyindir situasi umum yang terjadi di sebagian masyarakat kita. Betapa tidak, bertahun-tahun belajar bahasa Inggris di sekolah, tetapi tak kunjung fasih. Barangkali di antara kita ada yang termasuk kelompok tersebut.

Musthofa sejatinya adalah guru IPA. Namun, ia sering berkomunikasi dalam bahasa Inggris dengan orang asing maupun saat menjalani seminar internasional. Di buku ini ia menyampaikan pengalamannya terhadap anak didiknya yang kesulitan berbahasa Inggris. Ia lantas menggagas untuk mendatangkan native speaker. Ia pun mendapat sukarelawan asal Amerika bernama Elizabeth untuk mengajar bahasa Inggris di sekolahnya. Ternyata para siswa termotivasi dan bersemangat. Ini menjadi titik balik yang luar biasa. Kuncinya, ia tidak menitikberatkan pada konten, melainkan praktik (hlm. 192-194).

Baru membaca tiga kisah itu saja sudah bikin merinding. Bisa dibayangkan betapa dahsyatnya atmosfer yang disajikan melalui 34 cerita di buku ini. Yang lebih istimewa, buku ini membingkai kearifan lokal yang begitu humanis di dunia pendidikan. Cerita-cerita yang mengalir dan memikat mampu meluruhkan segala ego. Sangat inspiratif.

Tak salah kiranya jika buku ini memang benar-benar merangkum secara purna moto sharing and growing together. Sebab, amat terasa di buku ini bahwa 34 guru penulis hebat asal Bojonegoro tersebut tulus berbagi kepada para kolega mereka untuk tumbuh bersama-sama. Buku ini menyajikan multigizi dan multienergi untuk menciptakan inspirasi dan keteladanan.
Share on Google Plus

About Nadi Usea